Consulting Services 07 December 2020

Waterfall vs Agile dalam Manajemen Proyek Information & Technology

Waterfall 4

Dewasa ini perkembangan teknologi dan perangkat lunak semakin berkembang pesat. Banyak perusahaan mulai menerapkan pengembangan teknologi dan perangkat lunak dalam mendukung pertumbuhan perusahaan. Berbagai start-up di bidang TI-pun mulai menjamur seiring meluasnya kebutuhan manusia akan teknologi pada segala sektor. Dalam hal ini, kebutuhan sebuah manajemen proyek yang baik sudah menjadi kebutuhan penting bagi setiap perusahaan untuk mendukung penerapan tersebut. Berbagai metode manajemen proyek sudah digunakan untuk memudahkan tim proyek dalam menyelesaikan proyek yang dilakukan. Namun, tidak jarang seorang Project Manager kesulitan dalam menentukan metode manajemen proyek yang tepat dalam setiap penerapan proyek TI. Ada banyak aspek yang perlu dipertimbangkan, seperti kompleksitas proyek, jumlah personel yang dilibatkan, waktu dan dana yang disediakan, serta standar kualitas produk yang diharapkan oleh customer. Penentuan metode manajemen proyek yang tepat akan sangat mendukung penyelesaian proyek tepat waktu dengan kualitas produk yang baik.

 

Salah satu metode manajemen proyek TI yang sudah relatif lama digunakan adalah metode Waterfall. Metode ini dikembangkan sejak tahun 1970-an dan merupakan metode yang paling disukai hingga tahun 2000-an. Metode Waterfall merupakan metode manajemen proyek dengan model sekuensial, yakni pembagian fase dalam pengerjaan proyek mulai dari fase requirement, design, development, testing, kemudian maintenance. Dalam pengerjaannya, setiap fase harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum mengerjakan fase selanjutnya, dan tidak dapat kembali atau mundur ke fase sebelumnya. Pada metode ini, penekanan diberikan pada perencanaan keseluruhan atau jangka panjang dan kontrol deadline setiap fase. Selain itu, metode ini juga menekankan pada dokumentasi tertulis sebagai kontrol yang ketat pada setiap fase. Metode ini banyak digunakan karena relatif mudah dan bersifat stabil. Akan tetapi, metode ini memiliki beberapa kekurangan, diantaranya yakni mengharuskan ketepatan requirements sejak awal perencanaan, sulit untuk melakukan perubahan pada fase tertutup atau bersifat kaku, dan seringkali membutuhkan waktu yang relatif lama.

Waterfall 1

 

Seiring dengan berkembangnya kebutuhan, pada awal tahun 2000-an muncul salah satu metode manajemen proyek yang menjawab kekurangan dari metode Waterfall, yaitu Metode Agile. Sejak kemunculannya, metode ini menarik perhatian bagi kalangan Project Manager dan pemimpin bisnis khususnya di bidang TI. Metode ini sendiri dikembangkan oleh sekelompok pengembang perangkat lunak di Utah, Amerika Serikat pada tahun 2000. Mereka mengembangkan metode yang dirasa lebih relevan dengan perkembangan proyek TI dan berdasarkan pengalaman yang mereka alami selama mengerjakan proyek TI dengan metode Waterfall. Pertemuan sekelompok orang tersebut akhirnya menghasilkan Agile Manifesto yang menjadi pedoman utama dalam menjalankan manajemen proyek dengan metode Agile.

 

Empat nilai dalam Agile Manifesto tersebut adalah:

  1. Individuals and Interactions Over Processes and Tools
    Individu dan interaksi antar individu lebih diutamakan dibandingkan proses dan tools yang digunakan. Individu dianggap sebagai penyetir proyek dan komunikasi antar individu menjadi kunci utama dalam keberhasilan proyek. Hal ini dimaksudkan bahwa bukan proses yang mengendalikan individu, melainkan individu yang mengendalikan proses. 

  2. Working Software Over Comprehensive Documentation
    Pendokumentasian tertulis seperti penjabaran detil berbagai requirement dan spesifikasi produk yang menyita banyak waktu dapat menyebabkan delay dalam delivery. Oleh karena itu, dokumentasi tertulis lebih diminimalisir karena produk yang berhasil lebih diutamakan.

  3. Customer Collaboration Over Contract Negotiation
    Komunikasi antara developer dan client lebih diutamakan dibandingkan kesepakatan tertulis pada kontrak di awal persiapan proyek. Komunikasi dengan client dilakukan terus menerus selama proyek dijalankan, tidak hanya pada saat pembahasan requirement di awal inisiasi proyek.

  4. Responding to Change Over Following a PlanRespon terhadap perubahan lebih diutamakan dibandingkan mengikuti rencana kerja yang sudah disusun pada saat inisiasi proyek. Pada siklus pendek metode Agile,fleksibilitas terhadap perubahan merupakan hal penting yang dapat meningkatkan nilai produk pada hasil akhirnya.

Metode Agile dianggap menjadi jawaban atas tantangan yang dihadapi pada saat menggunakan metode Waterfall, yakni mengutamakan individu dan interaksinya, produk yang berhasil, komunikasi intens dengan customer, serta responsif terhadap perubahan. Metode Agile dijalankan dengan menggunakan pembagian sprint atau siklus pendek dengan target tertentu di setiap sprint. Siklus pendek ini memudahkan dalam mengakomodasi perubahan, pemantauan progress dan target di setiap sprint hingga akhirnya tim menyelesaikan semua sprint dan mencapai semua target.

Waterfall 2

Namun, metode Agile juga memiliki beberapa kekurangan, diantaranya sulit dalam pengimplementasian pada proyek skala besar, waktu pelaksanaan proyek pada setiap sprint yang realtif singkat dapat terkesan terburu-buru sehingga dapat menghasilkan produk yang kurang memuaskan, serta membutuhkan manajemen tim yang mandiri dan terlatih.

Kedua metode di atas sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga seorang Project Manager diharapkan mampu menggunakan metode yang sesuai dengan skala dan target proyek yang akan dijalankan. 

Waterfall 3

Menilik kondisi perkembangan teknologi saat ini, banyak Project Manager yang menerapkan metode Waterfall dalam segi perencanaan namun bisa jadi juga menerapkan metode Agile dalam segi pelaksanaan. Perencanaan dibuat secara komprehensif namun dalam eksekusinya tidak bersifat kaku terhadap perubahan. Pemantauan progress dan target juga dapat dilakukan dalam jangka waktu pendek, seperti mingguan atau bahkan harian. Hal ini akan memudahkan tim dalam menangkap risiko proyek dan menemukan solusinya sesegera mungkin. Oleh karena itu, pada masa perkembangan teknologi saat ini, penting bagi seorang Project Manager memiliki sense dalam menentukan strategi manajemen proyek sebelum dan selama menjalankan proyek terutama di bidang TI. Apapun metode manajemen proyek yang digunakan, sikap responsif terhadap perubahan serta sikap cepat tanggap terhadap risiko proyek perlu dimiliki oleh setiap Project Manager di era perkembangan teknologi saat ini.

 

 

Reference:

http://agilemanifesto.org/

https://medium.com/skyshidigital/manajemen-proyek-waterfall-atau-agile-mana-lebih-baik-b92901f88159

https://www.hestanto.web.id/model-air-terjun-waterfall-model/

https://medium.com/ppl-sutopo/agile-manifesto-a6c2cd69ff67

https://www.dropbox.com/id/business/resources/agile-methodology

https://www.ntaskmanager.com/blog/how-to-use-ntask-for-waterfall-project-management-a-practical-guide-for-first-timers/

https://hub.packtpub.com/9-reasons-to-choose-agile-methodology-for-mobile-app-development/

https://bajau.com/What-we-do/Consultancy/CI-CD/Waterfall-vs-Agile/

 

 

Penulis:
Naim Rohatun
Technical Consultant – Consulting and Advisory Services

 

Info lengkap, silahkan hubungi:
contact@mii.co.id
customer.experience@mii.co.id

 

 

 

Recent Article

Waterfall 4
07 Dec 2020

Waterfall vs Agile dalam Manajemen Proyek Information & Technology

Dewasa ini perkembangan teknologi dan perangkat lunak semakin berkembang pesat. Banyak perusahaan mulai menerapkan pengembangan teknologi dan perangkat lunak dalam mendukung pertumbuhan perusahaan.

Read More