20 Januari 2026

IT Maturity Assessment sebagai Fondasi Tata Kelola TI (IT Governance) untuk Kesiapan Digital Perusahaan Manufaktur

 

PT Bhirawa Steel merupakan perusahaan manufaktur baja nasional yang didirikan sejak tahun 1973 dan berlokasi di Surabaya, Jawa Timur, dengan fokus utama pada produksi baja tulangan beton untuk mendukung sektor konstruksi dan infrastruktur. Dalam perkembangannya pada tahun 2019, perusahaan menjadi bagian dari grup usaha BUMN yakni PT Hutama Karya (Persero) dan anak usaha dari PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI).

Sebagai perusahaan manufaktur baja dengan kompleksitas operasional yang tinggi, PT Bhirawa Steel menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan Teknologi Informasi (TI). Lingkungan TI yang masih berbasis on-premise, pengelolaan infrastruktur dan tata kelola teknologi 80% s.d 90% dilakukan mandiri oleh Tim Sistem Informasi Teknologi (SIT), cakupan area operasional yang luas, serta jumlah pengguna yang banyak menuntut tata kelola TI yang lebih efektif, terintegrasi, dan strategis untuk kesiapan tantangan teknologi informasi (IT) perusahaan kedepan.

Di sisi lain, sebagai cucu BUMN dari PT Hutama Karya (Persero) dan anak usaha PT Hutama Karya Infrastruktur,  PT Bhirawa Steel juga memiliki kewajiban untuk memenuhi penilaian tingkat kematangan teknologi informasi sesuai dengan regulasi yang berlaku, yakni Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-2/MBU/03/2023 Tahun 2023 tentang Pedoman Tata Kelola dan Kegiatan Korporasi Signifikan BUMN.


Kesiapan Digital Perusahaan Melalui IT Maturity Assessment

Dilatarbelakangi dari kebutuhan tersebut, Bhirawa Steel menetapkan target nilai IT Maturity yang akan dicapai setiap tahunnya. Sehingga, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan untuk menyiapkan tata kelola IT yang tepat untuk memenuhi gap antara kondisi saat ini dengan target yang diharapkan.

Untuk itu Bhirawa Steel bekerjasama dengan PT Mitra Integrasi Informatika (MII) dan melaksanakan Project Assessment & Pendampingan IT Maturity Level COBIT 2019 Tahun 2025 selama kurang lebih 3 bulan secara daring (online), untuk mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan dalam praktik pengelolaan TI perusahaan.

“Menurut hasil rekomendasi dari tim MII, kami mendapatkan banyak awareness terutama di beberapa poin tata kelola sehingga kami dapat melengkapi poin-poin yang belum dilakukan seperti pendokumentasian, knowledge (tentang tata kelola IT), dan roadmap. Sehingga kami yang berlatarbelakang operasional IT mendapat arahan kembali melalui tata kelola IT tersebut,” ujar Dewi Endra Sari, Manager Sistem Teknologi Informasi, PT Bhirawa Steel.


Pendampingan Strategis MII dalam Tata Kelola TI

Dalam proyek IT Maturity Assessment ini, MII tidak hanya berperan sebagai asesor, tetapi juga sebagai mitra strategis yang mendampingi perusahaan secara menyeluruh. Proses dilakukan secara terstruktur, mulai dari asesmen awal, evaluasi kondisi eksisting, hingga penyusunan rekomendasi peningkatan yang mendukung keputusan strategis manajemen untuk pengembangan TI yang terarah dan sesuai target Bhirawa Steel.

“Kami sangat terbantu oleh Tim konsultan MII, khususnya dalam meningkatkan awareness dan pemahaman lintas fungsi di luar unit kerja IT. Melalui pendampingan ini, kami menyadari bahwa tingkat kematangan IT merupakan tanggung jawab dan peran penting dari seluruh Bagian / unit kerja di Perusahaan, bukan hanya Bagian Sistem Informasi Teknologi (SIT). Dengan pendampingan tersebut, Tim konsultan MII juga memberikan rekomendasi yang tepat dan relevan untuk dijalankan guna membantu perusahaan memenuhi target-target yang telah ditetapkan,” ujar Dewi.


Rekomendasi Realistis dan Roadmap Terukur  

Berdasarkan hasil assessment, MII menyusun rekomendasi yang disesuaikan dengan kondisi nyata PT Bhirawa Steel. Tim konsultan MII juga memberikan rekomendasi yang tepat dan relevan untuk dijalankan guna membantu perusahaan memenuhi target-target yang telah ditetapkan. Rekomendasi tersebut tidak bersifat idealistis, tetapi mempertimbangkan kondisi perusahaan saat ini, sehingga memberi arahan jelas bagi perusahaan untuk menentukan langkah-langkah ke depan.

Roadmap yang disusun juga dilengkapi dengan ruang lingkup, prioritas, target, serta pertanggungjawaban yang jelas, sehingga memudahkan implementasi secara bertahap dan terukur. Hal ini memudahkan Bhirawa Steel untuk secara bertahap memenuhi roadmap yang ada untuk memberikan hasil terbaik.


Dampak Positif dan Langkah Lanjutan Tata Kelola TI

Hasil IT Maturity Assessment menunjukkan peningkatan nilai yang signifikan dari target yang direncanakan pada tingkat kematangan tata kelola TI di Bhirawa Steel. Salah satu implementasi konkret dari rekomendasi MII adalah penerapan IT Service Management (ITSM), yang mengubah pola layanan TI dari sistem manual menjadi terotomatisasi dan terkontrol.

“Saat ini layanan Bagian Sistem Informasi Teknologi (SIT) tidak lagi dilakukan secara informal (chat pribadi, telepon, kontak personal). Semua permintaan dan layanan Bagian Sistem Informasi Teknologi (SIT) harus terdokumentasi melalui aplikasi/sistem ITSM, dan itu sangat mengubah pola kerja kami menjadi lebih efektif , transparan dan terkontrol,” ujar Dewi.

Perubahan ini dirasakan tidak hanya oleh Bagian Sistem Informasi Teknologi (SIT), tetapi juga oleh seluruh pengguna di Bhirawa Steel. Selain meningkatkan kualitas layanan, implementasi ini juga memperkuat akuntabilitas dan transparansi pengelolaan Teknologi Informasi (TI). Selain itu, hasil assessment juga menjadi landasan bagi manajemen dalam menyusun strategi jangka panjang, termasuk rencana implementasi standar keamanan dan layanan Teknologi Informasi (TI).

“Rekomendasi dari MII juga membantu kami dalam menyusun langkah ke depan, termasuk rencana implementasi ISO 27001 di tahun 2026 dan ISO 20000 di tahun 2027,” ungkap Dewi.
 

MII sebagai Mitra Konsultan yang Terpercaya

Keberhasilan proyek ini menegaskan pentingnya peran konsultan yang tidak hanya menilai, tetapi juga mendampingi dan mentransfer pengetahuan kepada klien. Dengan tim konsultan yang berpengalaman, pendekatan yang komunikatif, serta rekomendasi yang aplikatif, MII mampu menjawab kebutuhan Bhirawa Steel secara komprehensif.

“Konsultan PT MII yang tersertifikasi, pengalaman yang dimiliki, serta keterbukaan tim konsultan yang memiliki fokus pada setiap fungsi atau spesialisasi menjadi alasan utama kami mempercayakan proyek ini kepada PT MII. Dengan pendekatan tersebut, proses diskusi dapat berjalan lebih terarah dan menghasilkan rekomendasi yang tepat. Kami berharap keterbukaan dalam proses diskusi ini dapat terus berlanjut, khususnya terkait pengetahuan Tata Kelola TI maupun proyek-proyek pengembangan lainnya,” tutup Dewi.

Pengalaman PT Bhirawa Steel ini menjadi bukti bahwa IT Maturity Assessment yang dilakukan bersama mitra yang tepat dapat menjadi fondasi kuat bagi Perusahaan dalam membangun tata kelola TI yang berkelanjutan dan selaras dengan strategi dan tantangan bisnis ke depan. Bagi perusahaan lain dengan tantangan serupa, kolaborasi ini menunjukkan bahwa MII bukan sekadar konsultan, tetapi mitra strategis dalam perjalanan transformasi tata kelola TI yang relevan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing perusahaan.
 

Hastag
Consulting Advisory & Services